Kisah Pilu Mamadou Sakho dan Jadi Kacang Yang Tidak Lupa Kulit

Bek Crystal Palace, Mamadou Sakho menceritakan sebuah kisah yang sangat memilukan sebelum menjadi pemain sepak bola profesional seperti saat ini. Dirinya mengaku bahwa dahulu sempat menjadi gelandangan dan mengemis di jalanan untuk bertahan hidup.

Dalam menempuh karir sebagai pesepak bola yang sukses, sang pemain harus melewati jalan yang terjal. Bahkan untuk hidup saja, sang pemain harus mengemis di jalanan Paris ketika masih kanak-kanak.

Akan tetapi, dengan kerja keras dan usahannya untuk menjadi pesepak bola, kini hidupnya telah berubah drastis. Sang pemain saat ini menjadi salah satu bek terbaik Premier League. Bahkan dirinya sempat membantu Timnas Prancis menjadi juara Piala Dunia 2018.

Melihat masa lalunya, Mamadou Sakho tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulit. Sang pemain terdorong untuk membantu klubnya dalam kampanye membantu para tunawisam di London Selatan.

“Menurut saya, hal seperti itu sangat bagus. Sebab ini akan menjadi pusat dalam merawat orang-orang seperti mereka, paling tidak dengan memberi mereka tempat untuk mandi, dan tempat yang memberi mereka harapan,” kata Mamadou Sakho yang dilansir dari Mirror.

“Memang orang-orang seperti mereka sudah sepantasnya mendapatkan hari seperti ini. Kami juga ingin memberi mereka sebuah senyum yang beharga, dan membuat mereka terus memiliki kekuatan dan menunjukkan pada bahwa dunia saat ini juga membutuhkan mereka,” imbuh Mamadou Sakho.

Seperti diketahui, sebuah kota di Inggris, Croydon, memang terdapat banyak orang tidur di jalanan. Ketika masuk pada musim dingin, pihak klub Crystal Palace membuka ruang tunggu bagi tunawisma dan Selhurst Park Sainsbury dengan menyumbangkan makanan untuk membantu mereka.

“Para pemain sepakbola sudah pasti menghasilkan banyak uang. Apa saja yang akan anda lakukan dengan uang itu merupakan sebuah hal yang paling penting.”

“Apabila anda bisa mengubah hidup orang lain dengan lima atau 10 persen dari gaji anda, maka itu menjadi sebuah tambahan yang besar bagi mereka. Saya masih ingat betapa bersyukurnya saya pada hari ini dan, melihat mereka sangat kesulitan,” jelas Mamadou Sakho.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *