Pelatih Top Eropa Mempertanyakan Efektivitas Gol Tandang

Sepakbola terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Setelah sebelumnya ada pemakaian teknologi, seperti VAR dan Goal Line Technology, pelatih dari top Eropa mulai mempertanyakan sistem gol tandang di kompetisi Eropa. Hal ini mengemuka dalam pertemuan pelatih top Eropa di Nyion, Swiss pada Selasa (04/09/2018).

Sejumlah pelatih top Eropa berkumpul di Nyon dalam agenda tahunan bagi kalangan pelatih di benua Eropa. Para pelatih top Eropa itu diantaranya adalah Allegri, Carlo Ancelloti, Unai Emery, Julian Lopetegui hingga pelatih kontrovesial yaitu Jose Mourinho. Usulan penghapusan system gol tandang ini pertama kali disampaikan kepada pers melalui Giorgio Marchetti, Wakil Sekjen UEFA pada Rabu, (05/09/2018).

“Mereka (pelatih top Eropa), merasa melakukan gol tandang tidak lagi sulit seperti pada masa lalu dan minta aturan ini ditinjau kembali. Itulah yang kami akan lakukan,”ujar Marchetti.   

Sekedar informasi, system gol tandang sudah diterapkan di sepakbola Eropa sejak tahun 1969 dalam ajang Piala Winners. Sistem ini dibuat dalam rangka membuat laga menjadi lebih efisien. Biasanya laga yang berakhir imbang dilanjutkan ke pertandingan yang netral atau ke babak adu penalti. Pemakaian gol tandang diharapkan membuat laga menjadi lebih simple dan tidak menyulitkan klub yang bertanding.

Pada musim lalu, system gol tandang membawa beberapa tim dapat lolos ke babak semifinal Liga Champions Eropa. AS Roma menjadi klub yang paling sering diuntungkan dengan system ini, tercatat 2  kali Roma lolos melalui system gol tandang. Pertama kala menghadapi Dontesk dan kedua kala melawan Barcelona di babak 8 besar Liga Champions Eropa.

Alasan dari pelatih top Eropa yang menganggap laga tandang tidak lagi sesulit tahun-tahun sebelumnya menjadi argument terkuat dari usulan peninjauan system gol tandang ini. Meski baru usulan, UEFA tampaknya akan mempertimbangkan usulan ini. Pada kepemimpinan UEFA memang telah terjadi beberapa perubahan dalam aturan sepakbola. Usulan ini akan menjadi bahan perdebatan baru dikalangan anggota UEFA, tentunya dengan mempertimbangkan kepentingan dari klub dan federasi yang berada di bawah UEFA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *